"Ketahuilah, bahwa tashawuf itu ialah patuh mengamalkan perintah dan menjauhi larangan lahir dan bathin sesuai dengan ridha-Nya, bukan sesuai dengan ridhamu" (Asy-Syaikh Ahmad At-Tijani, Jawahirul Ma'ani, 2 : 84)

Senin, 14 Januari 2013

Tijaniyah Menjawab dengan Kitab dan Sunnah

Perkembangan Thariqat Tijaniyah dinegara-negara muslim, banyak memicu pro dan kontra sebagaian ulama dan masyarakat. Demikian pula dengan di Indonesia. Sebagaian ulama dan masyarakat menuduh dan menganggap sebagai thariqat yang tidak mempunyai dasar yang kuat dari al – Quran dan sunah. Mereka melihat kitab-kitab Thariqat Tijaniyah dan memahaminya secara keliru. Mereka pun tidak melakukan kajian dan penelitian lebih lanjut terhadap beberapa berita-berita yang beredar kepada kelompok Thariqat Tijaniyah.
Dalam persoalan ini, pihak Thariqat Tijaniyah akan meluruskan dan memberikan penjelasan kepada semua pihak, agar tidak timbul prasangka buruk atau sesuatu yang tidak diinginkan.
Allah SWT telah berfirman :
“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang Fasik membawa suatu berita, Maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu. (Q.S. al Hujurat : 6)
Thariqat Tijaniyah adalah Thariqat yang Sah
Berdasarkan Kitab dan Sunah.
Thariqat Tijaniyah yang digagas oleh Syeikh Ahmad bin Muhammad at- Tijani, Faz. Maroko ( lahir, 13 Safar 1150 H, wafat 17 Syawal 1230 H), merupakan salah satu thariqat mu’tabaroh dan sah. Sanad barzakhiyahnya pun muttasil dengan Rasulullah SAW. Thariqat ini telah disepakati sahnya oleh ulama dalam muktamar NU ke -3 di Surabaya. Tanggal 19 Robi’uts Tsani 1346 H. / 9 Oktober 1927M. Masalah No.50 . karena semua keutamaannya berdasar Kitab dan Sunah.
ؤ طر يق كل مشا يخ قذ قيد ت بكتا ب ا لرب ؤ ا لحد يث تا ضتلا
“Thariqat semua syekh adalah berdasarkan kitab Tuhan ( al –Qur’an ) dan Hadist.”
Keputusan ini kembali diperkuat dalam muktamar NU ke–6 di Pekalongan.tanggal 12 Robi’uts Tsani 1350 H. / 27 Agustus 1931 Masalah No.117. Bahwa semua wirid dalam Thariqat Tijaniyah adalah sah dan benar, seperti : Istighfar, Shalawat dan Hailalah. Begitu pula dengan pernyataan-pernyataannya dan syarat-syaratnya yang sesuai dengan agama ( syara’).
Adapun sesuatu yang lahiriyahnya tidak sesuai, jika dapat ditakwilkan. Maka harus ditakwilkan pada arti yang sesuai dengan agama dan diserahkan kepada ahlinya. Jika tidak dapat ditakwilkan, maka tidak boleh diajarkan kepada orang awam.
Melihat Kitab – kitab Thariqat dan Ahli Tasawuf Harus Hati-hati.
Melihat kitab-kitab thariqat sangat perlu hati-hati. Baik kitab –kitab Thariqat Tijaniyah. Seperti Jawahirul Ma’ani Wa Bulughi al – Amani, Rimahu Hizbi ar-Rahim ‘Ala Nuhuri Hizbi ar – Rajim atau lainnya. Demikian pula dengan kitab-kitab thariqat lainnya. Karena banyak terkandung beberapa rahasia yang tidak mudah dipahami oleh semua orang. Kecuali oleh orang-orang dari kelompok thariqat tersebut yang membidangi dan sempurna ilmu lahir-batinnya.
ففي تلك ا لكتب مؤ ا صع عبر عنها بما لا يطا بقة ظؤ ا ةر عبا ر تها ا تكل لا علي ا صطلا ح مقر ر عند ؤ ا ضعها فيفةم مطا لعها ظؤا ةر ا لبر ا مر د ه فيصل صلالا مبينا . ؤ ا يصا فيةل ا مؤر كسفيه ؤ قعتح ل غيبه ؤا صطلام. ؤ ةذا يختا ج الي التا ؤ يل ؤةؤ يتؤ قف علي ا تقا ن العلؤم الظا ةره بل ؤا لبا طنه. فمب نظر فيها ؤهؤ لبس كذا لك فهم مبها خلا ف ا لمر ا د فضل ؤا ضل فعلم ا ن مجا نبه مطا لعتها را سا ا ؤ لي
“ Maka dalam beberapa kitab ( thariqat ) terdapat beberapa tema yang diungkapkan dengan ibarat yang tidak sama ( berbeda) dengan redaksi lahirnya, sehingga menimbulkan pemahaman yang berbeda atau berlawanan antara yang mempelajarinya dengan yang diinginkan sebenarnya, sehingga akan menyesatkan. Selain itu, dalam beberapa kitab ( thariqat) terdapat beberapa perkara yang bersifat kasyf ( pengungkapan yang bersifat misteri) saat berada diluar kesadaran. Dan ini memerlukan penakwilan serta pendalaman ilmu-ilmu lahir dan batin orang yang melihat / mempelajarinya. Sementara dia tidak mempunya keahlian, ia akan memahami dengan pemahaman yang berlawanan, sehingga ia menjadi tersesat dan menyesatkan . dengan demikian , tidak mempelajarinya adalah lebih baik baginya.”2
Demikian pula dalam menyikapi beberapa ungkapan yang muncul dari seorang wali atau ahli tasawuf. Maka beberapa ungkapan mereka harus ditakwilkan terlebih dahulu. Karena terkadang ungkapan mereka sulit dipahami.
“Jika kamu mendengar beberapa perkataan ahli tasawuf dan kesempurnaan, yang lahirnya tidak sesuai dengan Syari’at Nabi Saw, yang memberi petunjuk dari kesesatan, maka tawakuflah ( diam)! Dan mohonlah kepada Allah Yang Maha Mengetahui agar diberi ilmu yang belum kamu ketahui. Jangan kamu cenderung mengingkarinya, yang akan membawa kepada suatu akibat yang tidak baik. Karena sebagian kalimat-kalimat mereka adalah isyarat-isyarat / rumus-rumus yang tidak mudah dipahami, sedangkan hakikatnya sesuai dengan batinnya al-Qur’anul Karim dan Hadist Nabi yang penyayang. Maka jalan inilah yang lebih sejahtera dan jalan yang lurus.”
(Tafridul Khotir, halaman : 3)
Aqidah Thariqat Tijaniyah adalah Ahlu Sunah dan Tauhid Arifin.
Aqidah dan kepercayaan Jama’ah Thariqat Tijaniyah adalah aqidah ahlu sunah waljama’ah yang mengikuti metode ulama yang shalih, seperti : Imam Asy’ari, Imam Maturidi, imam Malik, Imam Abu Hanifah, Imam Syafi’I, Imam Ahmad, Imam al-Ghozali dan lainnya. Bahwa Alah SWT mempunyai sifat-sifat kesempurnaan dan berbeda dengan makhluk –Nya.
Aqidah-aqidah yang menyimpang dari ahlu sunah tidak terdapat dalam Thariqat Tiijaniyah , seperti kepercayaan Wahdatul Wujud ( bersatunya Pencipta dan Makhluk ) atau Hulul ( bersemayamnya Pencipta dalam makhluk ). Bahkan paham-paham ini telah disepakati oleh ulama Thariqat Tijaniyah sebagai paham yang menyimpang dari ajaran Islam dalam Musayawarah Nasional Muqoddam / Ulama Thariqat Tijaniyah di Ciawi, Bogor, Jawa Barat, tanggal 18-19 Shofar 1422H / 12-13 Mei 2001 M.
Syeikh Ahmad bin Muhammad at – Tijani sendiri sangat memperhatikan Ilmu Ushul dan Furu’ sejak kecil. Beliau hafal al-Quran pada umur 7 tahun dengan riwayat Imam Nafi’ didepan gurunya, yaitu : Syekh Abu Abdillah Sayid Muhammad bin Hamawi. Beliau [un telah menamatkan kita Mukhtashor Syeikh Kholil dan ar-Risalah Imam Ibnu Rusyd serta Muqaddimah Imam Akhdhori dihadapan gurunya, Sayyid Al Mabrur bin Bu’Afiyah al – Madhowi.
Ide Utama Thariqat Tijaniyah adalah Syukur
Thariqat Tijaniyah merupakan thariqat yang menekankan syukur sebagai jalan menuju kepada Allah. Syukur menjadi pijakan pokok dan prinsip utama Thariqat Tijaniyah. Oleh karenanya nama lain Thariqat Tijaniyah adalah Thariqat Syukur ( at – Thoriqot asy – Syukr).
Syeikh Ahmad at – Tijani berkata :
Eالشكر با ب الله الا عظم ؤ صراطهالا قؤم ؤلهدا قعدالشيطا ب بسبيله يصد عنه ا لمؤ منينَ
(جؤ ا هرا لمعا ني ج: ا ص : ٩٧ )
“ Syukur adalah pintu terbesar Allah dan jalan-Nya yang terlurus. Karena itu, setan selalu duduk di jalurnya, merintangi orang-orang mukmin melewatinya.”5
Masih dalam kita yang sama, beliau menyatakan pokok pikirannya:
ا قر بالا بؤاب الي ا لله باب ااشكرؤمب لم يد خل لا ب التفؤ س قد غلظت.
“ Pintu paling dekat menuju kepada Allah adalah pintu syukur. Siapa pada masa ini tidak masuk melalui pintu syukur, dia tidak akan dapat masuk. Karena jiwa manusia saat ini telah mengeras.”
Pokok pikiran utama ini diteruskan oleh murid terdekatnya, Sayid Ali Harazim bin Arobi yang berkata :
البا س كلهم غر قي بحر النعم ا تهم لا يشكر ؤ ت
“ Seluruh manusia tenggelam dalam lautan nikmat. Sungguh mereka tidak bersyukur.”
Pokok Pikiran ini merupakan inti dari Firman Allah Swt :
“ Dan sedikit dari hamba-hamba-Ku yang pandai bersyukur .” ( As- Saba :13)
Ayat-ayat yang menerangkan tentang nikmat dan syukur ini banyak ditemukan dalam Kitabulloh ( al-Quran).
Aqidah Tentang kenabian dan Imamah
Tidak ada perbedaa diantara ulama ahlu sunah, bahwa Nabi Muhammad Saw.adalah Nabi dan Rasul terakhir. Tidak ada Nabi dan rasul setelah Nabi Muhammad SAW.
Beliau bersabda kepada Sayidina Ali bin Thalib :
يا علي انت مني بمنز له ها رؤن من مؤ شي عليه السلا م غير انه لا نبي بعدي
“ Wahai Ali, kedudukanmu disisiku seperti kedudukan Nabi Harun disisi Nabi Musa alihi salam. Akan tetapi tidak ada Nabi lagi setelahku.”
Demikian pula keyakinan Jama’ah Thariqat Tijaniah tentang kenabian dan risalah Nabi Muhammad SAW. Jika muncul anggapan martabat Syeikh Ahmad bin Muhammad at-Tijani menyatakan mencapai martabat kenabian adalah anggapan yang sesat. Beliau hanya menyatakan sebagai Khotmul Auliyah dan Qutbul Maktum. Itu pun berdasarkan petunjuk barzakhiyah Nabi Saw.
Tidak ada satupun teks-teks Tijaniyah yang menyatakan pernyataan bahwa Syeikh Ahmad bin Muhammad at-Tijani mencapai martabat kenabian ( nubuat).
Pernyataan tentang didirikannya mimbar cahaya diakhirat dan mahkota yang dikenakannya serta adanya seruan imamiyah atas Syeikh Ahmad bin Muhammad at-Tijani tidak menunjukkan pengertian nubuwwah. Melainkan hanya menunjuk akan sebagian keutamaan, karomah dan imamah.
“ ( Sebagian karomah ). Sesungguhnya Syeikh Ahmad bin Muhammad at-Tijani akan naik sebuah mimbar dari cahaya pada hari kiamat. Kemudian seorang penyeru ( malaikat) akan menyerukan seruan yang didengar seluruh orang di maukif: “hai ahli mahsyar,inilah imam kalian yang menjadi pegangan kalian .” ( al-Fathur ar-Robbani, hal : 84 )
Pernyataan ini hanya menunjukkan bahwa Syeikh Ahmad bin Muhamad at-Tijani akan memimpin kelompok thariqatnya di akhirat nanti. Bahkan semua orang mukmin akan memakai mahkota mutiara diakhirat bersama para imamnya.
Allah Swt berfirman :
“(Ingatlah ) suatu hari ( yang dihari itu ) Kami panggil tiap umat dengan pemimpinnya; barang siapa yang diberikan kitab amalannya di tangannya maka mereka ini akan membaca kitabnya itu, dan mereka tidak dianiaya sedikitpun.” (Q.S. al-Isro’ : 71 )
Imam Qurthubi menafsirkan ayat ini dengan mengambil beberapa riwayat, antara lain : bahwa manusia akan dipanggil dengan madzhab – madzhabnya. Mereka dipanggil dengan seseorang yang mereka jadikan imam didunianya : “Hai pengikut Hanafi, hai pengikut Syafi’I, hai pengikut Mu’tazilah, hai pengikut Qodiriyah dan sebagainya. Mereka akan mengikuti imamnya dalam kebaikan dan kejahatan , baik yang hak atau yang bathil.
Syeikh Ahmad bin Muhamad at- Tijani atau syeikh-syeikh thariqat lain juga akan memimpin jam’ahnya di hari kiamat nanti sebagai imam. Sebagaimana para imam madzhab dan para imam kebaikan lainnya. Kemudian mereka semua akan berada dibawah panji besar Nabi Muhammad SAW.
Tariqat Tijaniyah Berpegang Teguh pada Syari’at.
Thariqat Tijaniyah sangat menekankan arti penting syari’at. Syeikh Ahmad at-Tijani selalu menimbang semua persoalan dan fatwanya dengan kacamata syari’at, beliau berkata :
اذا سمعتم عني شيا فز نؤه بميزا ن الشرع فما ؤا فقه فا عملؤه به ؤما خل لف فا تر كؤه
(الا نصافص : ۱)
“ Jika kalian mendengar sesuatu dariku, maka pertimbangkan dengan neraca syara’. Sesuatu yang sesuai syara’, kerjakanlah dan sesuatu yang menyimpang, tinggalkanlah !”( Al- Inshof : 1)
Keteguhan atas syari’at dan sunah dengan penuh adab merupakan syarat sah bagi jama’ah Thariqat Tijaniayah. Jika syarat ini tidak dapat dipenuhinya, maka ia tidak pantas mencium kebenaran thariqat dan tertolak dari pintunya.
ؤ كذالك العمل نا ؤامر الشر يعه ؤنؤاهيها ؤالتمسك بادابها ؤبسنه رسؤل الله صلي الله عليه ؤسلم ؤتبع خطؤا ته ؤالتزام افعا له فا انه بد الك يصخ له الد خؤل في الر حاب التجا نيه ( الهدا يه الربا نيه في فقه الطر يقه الجا نيه ص : ۳)
“ Demikian pula beramal dengan beberapa perintah syari’at dan beberapa larangannya dengan beberapa adabnya. Berpegang teguh dengan sunah Rasululloh SAW, mengikuti perilakunya dan menetapi perbuatan-perbuatannya. Maka dengan itu semua dapat sah masuk dalam naungan Thariqat Tijaniyah .”9
Dalam adab syari’at dan sunah Syeikh Ahmad bin Muhammad at – Tijani menjadi teladan bagi jama’ah thariqatnya.
اما ادبه رضي الله عنه ظا هر ؤنا طنا في الشر يعه المحمديه ؤمع الله جل جلا له( ميزاب الر حمه ص : .۱)
“Adapun adab Syeikh Ahmad bin Muhammad at-Tijani ra. Lahir dan batinnya ada dalam Syari’at Muhammadiyah dan bersama Allah SWT.”10
Beliau selalu berada dalam jalan . syari’at dan mengikuti sunah. Dalam mengoptimalkan penjagaan syari’at dan sunah sehingga sempurna. Beliau memperhatikan dan menjaga beberapa had Allah, perintah-perintah-Nya dan larangan-larangan-Nya. Dalam hal ini tidak ada yang menyamai atau menyerupainya. Beliau menerapkan sunah bagi diri dan keluarganya. Menjadi sunah sebagai syi’arnya dalam semua perbuatan dan keadaannya.”
Beliau berakhlak dengan akhlak syari’at dan semua adab-adabnya yang terjaga. Akhlaknya adalah Qur’an dan semua yang diperintahkan ar-Rahman. Beliau ridho dengan ridho Allah dan benci dengan kebencian-Nya ( cinta dan benci karena Allah ) dalam semua perkaranya. Memerintahkan apa yang diperintah-Nya dan memperingatkan apa yang diperingatkan-Nya .
Beliau jelas-jelas mewarisi sifat Rasululloh SAW, mengagungkan perintah syari’at, memuliakan perintah Nabi Muhammad SAW. Beliau banyak merenungi Firman Allat SWT :
“ Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih .” (Q.S. an- Nur : 63 )
Beliau mencintai perbuatan yang pernah dilakukan Nabi SAW. Dan mengingatkan akan pentingnya mengikuti sunah. Beliau berkata :
الخير كله اتبا ع السنه ؤالشر كله مخا لفتها
“ Kebaikan seluruhnya ada dalam mengikuti sunah dan kejelekan seluruhnya ada dalam menyalahinya.”
Jika muncul anggapan bahwa Thariqat Tijaniyah membiarkan jama’ah dalam pelanggaran syari’at, dosa dan kemaksiatan adalah anggapan keji dan fitnah. Karena Syeikh Ahmad bin Muhammad at –Tijani banyak mengingatkan dan berpesan agar selalu takut kepada Allah, tidak menyalahi perintah-perintah-nya dan merasa aman dari murka Allah serta supaya waspada dari dosa-dosa dan maksiat.
Beliau berkata :
فليخذ رؤا من معا صي الله ؤمن غقؤ بته ؤمن قضي الله عليه منكم ؤالعبد غير معصؤم فلا يقربنه الا ؤهؤ با كي القلب خاءف من عقؤ به الله ( ميزاب الر حمه ص:۲٩)
“Hendaklah kalian takut dari maksiat-maksiat kepada Allah dan siksa-Nya . siapa yang telah melakukannya dari kalian ( dengan ketetapan Allah juga ) dan seorang hamba memang tidak ma’shum, maka jangan mendekat kepada Allah. Kecuali dengan hati yang menangis dan takut akan siksa Allah.” ( Mizabur arorahman , hal : 29 )
Thariqat Tijani menganjurkan jama’ahnya untuk selalu menjaga hak-hak Allah, beramar ma’ruf nahi mungkar., memenuhi kewajiban kewajiban agama secara konsisten ( istiqomah ), mengikuti sunah, tidak meremehkan amal-amal kebaikan dan menyayangi semua makhluk.
Keutamaan Shalawat Fatih dan al-Qur’an.
Kepercayaan bahwa Shalawat Fatih lebih utama dari al-Qur’an adalah kepercayaan yang salah dan bathil. Karena sebaik-baik kalam adalah kalamulloh ( al-Quran ) dan sebaik-baik ucapan makhluk adalah Sabda rasululloh SAW ,(sunah ). Jama’ah Thariqat Tijaniyah sangat memahami persoalan ini. seorang ulama Thariqat Tijaniyah, Muhammad bin Abdullah bin Husnaen dalam kitabnya, Al – Fathu ar – Robbani Fima Yahtaju Illahi al – Murid at – Tijani menjelaskan kedudukan sebenarnya persoalan ini. Beliau berkata :
ؤمن المقا له الثا لثا ان صلاة الفا تح افضل من الفران ؤهذه تؤ هما ت فا سدة ؤيرد انه ليس الغرض من كؤن هده الصلاة تعد ل ستة الاف ختمة من القرا ن انها افضل من القران

Sebagian pembahasan ketiga adalah shalawat Fatih lebih utama dari al-Qur’an. Ini adalah pemahaman yang salah. Anggapan ini dapat ditolak, bahwa yang dimaksud Shalawat Fatih sebanding 6.000 khatam al-Qur’an bukan berarti Shalawat Fatih lebih utama dari Al-Qur’an.”
Syeikh Ahmad bin Muhammad at-Tijani sendiri tidak pernah menyatakan bahwa Shalawat Fatih lebih utama dari al-Qur’an. Beliau hanya menyampaikan bahwa pahala Shalawat Fatih sekali sebanding dengan 6.000 khataman al-Qur’an.Perkataan sebanding tidak berarti melebihi atau lebih utama. Karena Beliau menggunakan kata (تعدل), bukan kata (افصل).
Maksud sebenarnya adalah satu bacaan sholawat bagi salik yang menghadirkan maknanya secara benar. Meneladani pribadi Nabi SAW dalam dirinya dan pikirannya tidak bercabang, maka akan diberikan dampak atau atsar yang besar dalam perilakunya. Jadi bukan berarti menunjuk bahwa Shalawat lebih utama dari Al-Qur’an secara pokok.
Arti lain tentang Shalawat Fatih ini adalah orang yang membaca Shalawat Fatih sekali dan memahami makna yang terkandung didalamnya serta mengamalkannya, maka akan mendapatkan keutamaan seperti membaca al-Qur’an 6.000 kali.
Adapun orang yang membacanya tanpa memahami al-Qur’an. Bahkan terus berada dalam maksiat kepada Allah , maka dia tidak mendapatkan pahala yang demikian. Keutamaan ini tidak melihat antara al-Qur’an dan Shalawat Fatih secara dzat. Melainkan melihat dari diri orang yang membaca al-Qur’an dan Shalawatnya. Karena orang yang membaca al-Qur’an yang tidak merenungi dan memahami maknanya, tidak memperhatikan hak-haknya, al-Qur’an justru akan melaknatnya. Nabi SAW bersabda :
رن قاري ؤالقر ان يلعنه
“ Banyak pembaca al-Qur’an dan al-Qur’an melaknatnya.”
Dalam persoalan Shalawat faith sebanding dengan 6.000 kali khataman al-Quran merupakan suatu karunia Allah SWT dalam pahala.
Bertemu Rasululloh saw secara Sadar
Imam Ahmad bin hajar ( Ibnu Hajar) al- Haitami dalam Fatawi al – Haditsiyah, halaman 225 mengemukakan persoalan kemungkinan melihat dan berjumpa Nabi SAW. setelah beliau wafat dalam keadaan sadar dan terjaga. Beliau menjawab bahwa sebagian jama’ah mengingkarinya dan sebagian menganggapnya sebagai sesuatu yang mungkin. Beliau mengambil dalil dari Hadist Imam Buchori :
من راني في المنا م فسير ني في اليقظة
“ Siapa yang melihatku dalam tidurnya, maka akan melihatku dalam terjaga .”
Ibnu Hajar mensyarah hadist tersebut : orang tersebut akan melihat Nabi SAW dengan mata kepalanya. Dalam riwayat lain dengan mata hatinya. Menafsiri kalimat “ Yaqdhoh’ dengan melihat Nabi Saw. Pada hari kiamat adalah interpretasi yang jauh dan tidak berfaidah. Karena semua umatnya akan melihat dan bertemu Nabi Saw. pada hari kiamat. Baik ia pernah bermimpi bertemu Nabi SAW atau tidak.
Maksud umum hadist ini adalah terjadinya pertemuan secara terjaga bagi orang yang pernah bertemu Nabi SAW dalam tidurnya, meskipun sekali, sesuai janji Nabi SAW yang mulia. Karena Beliau tidak pernah menyalahi janjinya. Dan ini banyak terjadi pada orang umum beberapa saat sebelum meninggalnya. Ruh orang tersebut tidak keluar sehingga melihatnya.
Adapun bagi orang-orang tertentu selain mereka, maka pertemuan ini sering terjadi jauh sebelumnya. Sedikit atau banyaknya pertemuan terkait erat dengan hubungannya dalam mengikuti sunah.
Demikian juga pendapat Imam Muhammad bin Abi Jamrah. Ulama muataakhirin yang berpendapat sama adalah Sayid Muhammad bin ‘Alawi al-Maliki.
Jama’ah Thariqat Tijaniyah meyakini dapat bertemu Rasululloh SAW setelah wafat merupakan keyakinan yang shahih dan kuat berdasarkan sabda Rasululloh SAW tersebut.
Dzikir Pagi, Sore dan Jum’at Sore.
Semua dzikir-dzikir yang diamalkan oleh Thariqat Tijaniyah dan jama’ahnya adalah dzikir-dzikir yang ma’tsur dari Nabi SAW.Baik lafal atau ketentuan waktunya.
Dzikir-dzikir yang dilakukan yang dirutinitaskan pada waktu pagi dan sore merupakan pengamalan dari perintah Allah SWT untuk berdzikir pada waktu pagi dan sore.
“ Hai orang-orang yang beriman, berzdikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya diwaktu pagi dan petang .” (Q.S. Al-Ahzab : 41-42)
“Dan sebutlah nama Tuhanmu pada (waktu) pagi dan petang.
Jama’ah Thariqat Tijaniyah pada hari Jum’at setelah Ashar akan melakukan dzikir, mengingat Allah dan banyak berdoa kepada Allah. Baik sendiri atau pun berjama’ah. Karena waktu akhir Jum’at merupakan waktu yang dianggap mustajab untuk do’a. Nabi SAW mengingatkan supaya banyak berdoa dan mengingat Allah pada hari Jum’at setelah Ashar.
ؤاذكر اسم ربك بكرة ؤا صيلا ( الا سان :٥ ۲)
“ Pada hari Jum’at terdapat 12 waktu di mana seorang hamba muslim yang menemukannya dan berdoa memohon kepada Allah pasti Allah memenuhi permintaan tersebut. Maka berpeganglah kalian pada akhir waktu setelah Ashar.” ( HR. Al-Hakim dari sahabat Jabir bin Abdulloh )
Jama’ah Thariqat Tijaniyah menitik beratkan dzikir-dzikir pagi dan sorenya dengan istighfar, shalawat dan kalimat tauhid ( tahlil ).
اما اؤراده رضي عنه التي تلقن الخلق هي : اثتغفر الله ما ئة مرة ؤاللصلاة علي رسؤل الله عليه ؤسلم باي صيغة ما ئة مرة ثم الهيللة ما ئة مرة ( جؤاهر المعاني ج:۱ ص: ۱۰۳ \ ميزاب الر حمة ص : ۱٨ \ الفتح الر با ني ص :٦٩)
“ Adapun beberapa wirid Syeikh Ahmad at –Tijani yang ditalkinkan kepada semua makhluk adalah : “ Astgfirulloh 100 kali, shalawat kepada Rasululloh SAW dengan bentuk lafal apapun 100 kali dan tahlil 100 kali.”
Dalam persoalan ini semua Umat Islam telah faham tentang adanya anjuran dan keutamaan dzikir-dzikir tersebut. Namun begitu, untuk lebih memantapkan semua pihak umumnya dan jama’ah Thariqat Tijaniyah khusunya, akan kami sebutkan beberapa ayat dan sunah yang menegaskan keutamaanya.
Allah SWT berfirman :
“ Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertaubat kepada-Nya. ( jika kamu, mengerjakan yang demikian ), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik ( terus menerus) kepadamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan dan Dia akan memberi kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan ( balasan ) keutamaanya. Jika kamu berpaling maka sesungguhnya aku takut akan ditimpa siksa hari kiamat.” ( Q.S Hud : 3)
Nabi SAW bersabda :
يا ايها النا س تؤبؤا الي الله فاني اتؤب في اليؤم الية ما ئة مرة ( رؤاه مسلم ؤابؤ داؤد ؤاحمد عن بن عمر)
“ Hai manusia, bertaubatlah kepada Allah. Sungguh aku telah bertaubat kepada-Nya dalam sehari 100 kali.” ( HR. Imam Muslim, Abu Daud dan Ahmad dari sahabat Ibnu Umar )
Mengenai Shalawat , Allah SWT telah memerintahkannya.
“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya ( QS. Al-Ahzab : 56)
Nabi SAW bersabda :
من صلي علي حين يصبح ؤ حين يمسي عشرا ادركنه شفا عتي ( رؤاه اطبر اني باسنا د جيد ؤابن ابي عا صم عن ا بي دردا)
“ Siapa yang membaca shalawat kepadaku diwaktu pagi dan sore 10 kali maka akan mendapatkan syafa’atku.” ( HR. Imam Thobroni dengan sanad yang baik dan Ibnu Abi Ashim dari sahabat Abu Darda’)
Mengenai kalimat tauhid, Nabi Saw, bersabda :
ما من عبد قال لا اله الا الله في سا عة من ليل اؤ نهار الا طمست ما في الصخيفة من الستا ت حتي مثلها من الحسنا ت ( رؤاه بؤ يعلي)
“ Tidak ada seorang hamba yang mengucapkan لا اله الا الله pada suatu waktu di malam atau siang hari, kecuali akan dihapuskan keburukan-keburukannya dari shahifah. Sehingga keburukan-keburukan itu diganti dengan kebaikan.” ( HR. Abu Ya’la)
Sahabat Abu hurairah meriwayatkan bahwa Rasululloh SAW bersabda :
ان لله تبا رك ؤتعا لى عمؤدا من نؤر بين يدي العرش فا ل العبد لا اله الا الله اهتز ذا لك العمؤد فيعؤل الله تبارك ؤتع لى اسكن فيفؤ ل كيف اسكن ؤلم يهفر لقا ئلها فيقؤ ل اني قذ غفرت له فيسكن عند ذالك ( رؤاه البزار)
“ Sesungguhnya Allah SWT memiliki tiang dari cahaya didepan Arasy. Jika seorang hamba mengucapkan لا اله الا الله maka tiang itu bergetar. Allah SWT berfirman : “ tenanglah !” Tiang itu berkata : “ Bagaimana aku dapat tenang , sedang orang yang mengucapkannya belum diampuni :” Maka Allah berfirman : “ Sesungguhnya aku telah mengampuninya.” Maka tiang itu tenang seketika .” ( HR. Al-Bazzar )
Sahabat Abu hurairah meriwayatkan ,, bahwa Nabi bersabda :
جد دؤ اايما نكم قيل يا رسؤ الله كيف نجد دا يما ننا ؟ قا ل : اكثرؤا من قؤل لا اله الا الله ( رؤاه ا حمد ؤالحا كم ؤالنسا ئي ؤا لطيؤا ني بسند حسن)
“ Perbaharuilah iman kalian ( jaddiduu iimaanakum )!” Para sahabat bertanya “ “ Bagaimana kami memperbaharui iman kami , ya Rasululloh?” Nabi SAW bersabda :” perbanyaklah ucapan “! لا اله الا الله ( HR. Imam Ahmadm Hakim, Nasa’I, Thobroni, Bukhori rah. Dalam Adabul Mufrod dan juga dalam Jami’us Shoghir dengan sanad baik)
Syeikh Ahmad bin Muhammad at-Tijani mempertegas kedudukan dzikir-dzikirnya sebagai dzikir-dzikir yang bersumber dari Rasululloh Saw, beliau berdzikir dalam semua keadaan dan kondisi. Tangannya tidak lepas dari tasbih yang digenggamnya, banyak berdzikir dan menganjurkannya. Beliau merutinkan dzikir setelah Subuh sampai Dhuha, setelah shalat Ashar sampai terbenam matahari diruang peribadahannya, juga setelah shalat Maghrib sampai Isya. Banyak melakukan shalawat kepada Rasululloh SAW dalam semua keadaan dan kondisi serta menganjur kepada sahabat-sahabatnya
Khotmul Auliya
Anggapan bahwa khotmul auliya sebagai penutup para wali adalah pemahaman yang keliru. Karena yang dimaksud khotmul Auliya bukanlah penutup para wali atau wali terakhir. Melainkan wali yang mencapai maqam yang paling sempurna. Imam al-Muhaddist Muhammad bin Ali al – Hakim at – Tirmidzi ( penyusun Kitab Nawadirul Ushul Fil Hadist ) menyatakan makdus sebenarnya dengan istilah khotmul auliya. Beliau berkata :
ؤليس معنا هل ان صا حب هذه المر تبة هؤ اخر الا ؤليا ء ؤلكن معنا ها انه اتم مقا مات الؤ لا ية ؤ بلغ اعاى مر تبة قيها ( الواردات : ۱۲٦)
Makna khotmiyah ( penutup ) bukanlah bahwa pemilik martabat ini merupakan akhir para wali. Tetapi dia paling sempurna maqam wilayahnya dan mencapai kedudukan ( martabat ) paling tinggi didalamnya.” ( Al – Waridat : 126)
Karomah Syeikh Ahmad at-Tijani
Jama’ah Thariqat Tijaniyah meyakini adanya karomah yang muncul dari para Wali dan Shalihin. Karomah adalah perkara yang berbeda dari adat kebiasaan masyarakat. Karomah yang terjadi pada seorang wali seperti mukjizat yang terjadi pada para nabi / rasul. Meskipun terdapat beberapa perbedaan.
Semua ahli sunah berijma’ ( sepakat) akan tetapnya karomah bagi para wali. Syeikh Zaruq menukil dari Al ‘Aqobi bahwa mendustakan karomah para wali seperti mendustakan mukjizat para rasul. Karena tiap karomah wali adalah membenarkan Nabi yang diikutinya.
Syeikh Ahmad at-Tijani mempunyai banyak karomah. Seperti doa-doanya yang cepat terkabulkan dan lainnya. Jama’ah Thariqat Tijaniyah menyadari bahwa semua karomah hanya akan terjadi jika Allah mengijinkan dan menghendakinya sesuai batasan Firman Allah SWT :
“ Tidak ada yang dapat memberi syafa’at disisi Allah tanpa izin-Nya.” ( Q.S al-Baqarah : 255 )
Justru yang ditekankan dalam Thariqat Tijaniyah bagi jama’ahnya adalah istiqomah, bukan karomah.
كن طالب الا ستقا مة ولا تمن صا حب الكرا مة فاء ن نفسك تتحرك فى طلب الكرامة ومو لاك يطا لبك بالا تكن بحق مولا ك اولى بك ا ن تكو ن بحظ نفسك وهوا ك ( بغية المسقيد : ۲۰٨)
“ Jadilah orang yang berusaha istiqomah dan jangan mengharap karomah. Sesungguhnya nafsu bergejolak dalam mencari karomah, tetapi Tuhanmu menuntut istiqomah. Kamu tidak akan dapat mengutamakan Tuhanmu selama kamu mementingkan bagian nafsu dan keinginanmu.” ( Bughyatul Mustafid, hal : 208 )
Syeikh Ahmad bin Muhammad at – Tijani banyak berlindung diri dari mengaku-aku sesuatu yang tidak sesuai dengan kedudukan atau maqomnya. Baik karomah atau lainnya . beliau berkata :
ان عقو بتها اي الد عوى ا لموت على سوء الخا تمة ( ميزا ب الر جمة : ۱۰)
“ Sesungguhnya siksanya ( pengakuan ) adalah mati secara su’ul khotimah.”
( Mizabur ar-Rahmah, hal : 10)
Intelektualitas
Ilmu dan intelektualitas menjadi dasar amal dan pebuatan dalam Thariqat Tijaniyah. Karena ilmu akan membuahkan amal. Syeikh Ahmad bin Muhammad at-Tijani banyak menganjurkan adanya amal dengan ilmu pengetahuan secara umum. Terutama untuk orang yang sedang dalam aktifitas ilmiyahnya.
Beliau sendiri terkenal keluasan ilmu lahir dan batinnya. Beliau banyak membaca kitab dan mendiskusikannya. Beliau menghafal hampir semua ilmu yang bermanfaat. Sehingga tiap orang banyak yang bertanya kepadanya atau mencatat ilmu darinya. Beliau akan mengimla’ tanpa banyak berfikir. Semua itu berlaku dalam tiap persoalan yang diajukan seakan-akan ilmu ada didepan penglihatannya.
Ini merupakan jawaban singkat dari beberapa persoalan pokok dan primer yang berkaitan dengan Thariqat Tijaniyah. Jika persoalan pokok ini sudah terjawab, maka beberapa persoalan lainnya hanya merupakan persoalan cabang yang jawabannya cukup dengan menggunakan kiasnya saja. Mudah-mudahan jawaban ini dapat memberikan kepuasan bagi beberapa pihak diluar Thariqat Tijaniyah, sehingga tidak menimbulkan kesalah pahaman bagi umat Islam.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar